“Memahat Harapan” Anak-Anak Desa Raja melalui Inisiatif Orang Muda
- Revian Putra
- Jul 1
- 3 min read
Silva Hafsari - Staff Voice for Equality Program, 2030 Youth Force Indonesia
21 Mei 2026 – Tulisan “Carving Dreams” terpampang di sebuah mading Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Kalimat sederhana tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak belajar, bermimpi, dan memiliki cita-cita untuk masa depan. Di balik ruang belajar yang sederhana itu, terdapat inisiatif orang muda yang berupaya menciptakan lingkungan aman bagi anak-anak dan remaja untuk bertumbuh.
Ruang belajar tersebut didampingi oleh Hiro, seorang koordinator regional Action for Change South East Asia (ActSEA). Bersama para relawan, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat, ia terlibat dalam pengelolaan TBM sebagai wadah belajar yang terbuka bagi anak-anak dan orang muda di desa. Tidak hanya menyediakan akses membaca, TBM juga menjadi ruang berkumpul, berdiskusi, dan mengembangkan berbagai keterampilan yang dapat mendukung masa depan mereka.
Lebih lanjut, sebagai organisasi yang berfokus pada pemberdayaan orang muda, ActSEA memandang bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Karena itu, kegiatan yang dilakukan di TBM juga mencakup pengembangan kapasitas, seperti kelas bahasa asing dan diskusi mengenai isu-isu sosial yang dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja.

Salah satu isu yang mulai diperkenalkan melalui ruang belajar tersebut adalah Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS). Bagi Hiro, pencegahan kekerasan perlu dimulai sejak dini dengan membangun pemahaman mengenai hak, perlindungan, dan relasi yang sehat. Pendekatan ini dilakukan secara bertahap melalui kegiatan belajar yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan peserta.
Pemahaman mengenai kekerasan bukanlah hal yang sepenuhnya asing bagi anak-anak di desa tersebut. Mereka memiliki kedekatan dengan Kelompok Perlindungan Perempuan dan Anak Desa (KP2AD) yang selama ini berperan dalam memberikan edukasi serta pendampingan terkait isu perlindungan. Hubungan yang terbangun menciptakan rasa aman sekaligus menumbuhkan keberanian untuk melapor ketika menyaksikan atau mengalami tindak kekerasan.
“Kalau kamu buat begitu, aku laporkan,” ungkap Hiro menirukan salah satu respons yang kerap ia dengar dari anak-anak.
Bagi sebagian orang, kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya terdapat perubahan penting: anak-anak mulai memahami bahwa mereka memiliki hak untuk dilindungi dan tidak perlu diam ketika menghadapi kekerasan.
Meski demikian, tantangan masih tetap ada. Kekerasan dalam pacaran, pencabulan, hingga kekerasan seksual masih menjadi persoalan yang ditemui di komunitas. Selain itu, keterlibatan orang muda dalam proses pengambilan keputusan di tingkat desa juga belum sepenuhnya terbangun secara setara. Dalam forum seperti Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), suara orang muda masih jarang terdengar dan terakomodasi.
Melalui kunjungan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) lokal bersama Plan Indonesia, Yayasan PAPHA, dan 2030 Youth Force Indonesia dalam Voice for Equality (V4E). Program Voice for Equality adalah inisiatif kolaboratif yang didukung oleh Uni Eropa, dengan tujuan memperkuat kapasitas Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dalam memajukan peran perempuan dan anak perempuan. Pengalaman diskusi dengan OMS lokal tersebut menjadi pembelajaran penting mengenai peran ruang komunitas dalam mencegah dan menangani KBGS. Pertemuan ini menunjukkan bahwa ruang belajar yang dikelola orang muda dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran, memperkuat keberanian anak-anak, serta mendorong partisipasi yang lebih bermakna dalam kehidupan komunitas.
Pertemuan ini bukan sekadar ruang diskusi untuk mendengarkan pengalaman orang muda di daerah, tetapi juga menjadi kesempatan bagi 2030 Youth Force Indonesia untuk mengeksplorasi potensi kolaborasi dalam memetakan kebutuhan pembelajaran orang muda terkait Meaningful and Inclusive Youth Participation (MIYP). Hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar bagi 2030 YFI untuk memfasilitasi pengembangan modul pembelajaran yang relevan, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan orang muda.







Comments